Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Mengapa Indonesia Tidak Mengalami Heatwave Seperti Eropa? BMKG Ungkap Penyebabnya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - Jul - 2026, 12:43

Placeholder
Di Berlin, pemerintah rutin menyemprotkan air ke area warga untuk antisipasi cuaca ekstrem panas. (Foto: X)

JATIMTIMES - Gelombang panas (heatwave) masih melanda sejumlah negara di Eropa dengan suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius di beberapa wilayah. Kondisi itu membuat banyak masyarakat bertanya-tanya, mengapa Indonesia yang juga sedang mengalami cuaca panas tidak mengalami fenomena heatwave seperti di Eropa?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa mekanisme atmosfer yang memicu gelombang panas di Eropa tidak terjadi di Indonesia. Perbedaan letak geografis menjadi faktor utama yang membuat kedua wilayah memiliki karakter cuaca yang berbeda.

Baca Juga : Panas Ekstrem, Pekerja di Bern Swiss Pilih Pulang Kantor Sambil Berenang di Sungai Aare

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan gelombang panas di Eropa dipicu gangguan sirkulasi atmosfer yang membuat udara panas terjebak dalam waktu cukup lama.

"Gelombang panas di Eropa terjadi karena adanya gangguan sirkulasi atmosfer yang menyebabkan udara panas terjebak dalam periode yang lama," kata Guswanto, dilansir Beritasatu, Kamis (2/7/2026). 

Menurutnya, wilayah Eropa berada di zona lintang menengah yang dipengaruhi aliran jet stream. Ketika aliran tersebut melemah atau bergeser dari pola normal, udara panas dari Afrika Utara dapat terdorong masuk ke Eropa dan bertahan selama beberapa hari.

BMKG menjelaskan salah satu penyebab utama gelombang panas adalah fenomena omega block. Kondisi ini terjadi ketika aliran jet stream membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega (Ω), sehingga sistem tekanan tinggi terkunci di satu kawasan.

Akibatnya, udara panas tidak dapat bergerak keluar dan terus menumpuk di wilayah yang sama.

"Pola ini membuat sistem tekanan tinggi terkunci di satu wilayah, sementara pada sisi lainnya diapit tekanan rendah," ujar Guswanto.

Selain itu, Eropa juga mengalami fenomena heat dome atau kubah panas. Sistem tekanan tinggi tersebut menekan udara ke bawah sehingga suhu semakin meningkat akibat proses kompresi.

Minimnya pembentukan awan membuat sinar matahari langsung memanaskan permukaan bumi tanpa banyak hambatan.

"Heat dome itu seperti tutup panci yang membuat panas terus terperangkap di bawahnya," jelasnya.

Dalam kondisi tertentu, pola atmosfer tersebut juga menarik massa udara panas dari Gurun Sahara menuju kawasan Eropa sehingga suhu meningkat lebih ekstrem.

Selain dipengaruhi dinamika atmosfer, BMKG menyebut perubahan iklim global ikut memperkuat intensitas gelombang panas di Eropa.

Baca Juga : Pejabat Zaman Lampau yang Kembalikan Gajinya ke Negara dan Wafat Tanpa Harta, Siapa Sosoknya?

Menurut Guswanto, laju kenaikan suhu di Eropa mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius setiap dekade atau sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global.

"Tren pemanasan di Eropa lebih cepat dibanding rata-rata global," katanya.

Ia menjelaskan berkurangnya partikel aerosol di atmosfer akibat pengendalian polusi udara membuat lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan bumi. Di sisi lain, mencairnya salju dan es di wilayah lintang tinggi mengurangi kemampuan permukaan bumi memantulkan panas sehingga suhu menjadi semakin tinggi.
Kenapa Indonesia Tidak Mengalami Heatwave?

Guswanto menjelaskan Indonesia tidak mengalami mekanisme atmosfer yang sama karena berada di kawasan tropis tepat di sekitar garis khatulistiwa.

Di wilayah Indonesia, cuaca lebih dipengaruhi oleh proses konveksi, pembentukan awan, serta siklus musim hujan dan kemarau, bukan oleh jet stream di lintang menengah seperti yang terjadi di Eropa.

"Di wilayah tropis seperti Indonesia, mekanismenya lebih didominasi oleh konveksi lokal dan siklus hujan," ujarnya.

Karena itu, suhu panas yang dirasakan masyarakat Indonesia selama musim kemarau umumnya dipicu oleh posisi semu Matahari dan berkurangnya tutupan awan. Kondisi tersebut berbeda dengan gelombang panas di Eropa yang terjadi akibat massa udara panas terperangkap dalam skala sangat luas.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim tetap perlu diwaspadai. Menurut Guswanto, pemanasan global berpotensi memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk wilayah tropis seperti Indonesia, apabila tidak diantisipasi melalui langkah mitigasi yang berkelanjutan.


Topik

Peristiwa Gelombang Panas panas ekstrem eropa heatwave



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Minang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa