8 Fenomena Langit Sepanjang Maret 2026, Gerhana Bulan hingga Ekuinoks saat Lebaran
Reporter
Mutmainah J
Editor
Yunan Helmy
01 - Mar - 2026, 12:37
JATIMTIMES - Maret 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi para pecinta astronomi. Sepanjang bulan ini, langit malam akan dihiasi berbagai fenomena menarik, mulai dari gerhana bulan total atau blood moon, pertemuan planet-planet terang, hingga peristiwa langka ketika bulan “menelan” bintang terang.
Kabar baiknya, sebagian besar fenomena ini berpeluang bisa diamati dari Indonesia selama cuaca cerah dan jauh dari polusi cahaya. Beberapa cukup dilihat dengan mata telanjang, sementara lainnya akan tampak lebih detail jika menggunakan teropong atau teleskop kecil.
Baca Juga : Siaga Hujan Deras, BPBD Kota Blitar Patroli Intensif dan Bersihkan Drainase Tersumbat
Dilansir dari laman resmi In The Sky, berikut ulasan lengkap delapan fenomena langit sepanjang Maret 2026.
1. 3 Maret 2026: Gerhana Bulan Total “Worm Moon”
Awal bulan langsung dibuka dengan peristiwa besar, yakni gerhana bulan total pada 3 Maret 2026. Gerhana ini bertepatan dengan fase Bulan Purnama yang dikenal sebagai Worm Moon.
Saat fase totalitas, bulan tidak benar-benar gelap. Permukaannya justru berubah warna menjadi jingga tembaga. Fenomena ini populer disebut Blood Moon. Warna tersebut muncul karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami pembiasan sebelum sampai ke bulan.
Gerhana bulan total kali ini dapat disaksikan dari sebagian besar wilayah Amerika Utara, Asia, dan Oseania. Di Indonesia, gerhana diperkirakan mulai terlihat sekitar pukul 18.30 WIB, sehingga masyarakat bisa menyaksikannya sejak awal malam tanpa harus begadang.
2. 7–8 Maret 2026: Konjungsi Venus dan Saturnus
Pada 7 dan 8 Maret, dua planet terang akan tampak berdekatan rendah di langit barat selepas Matahari terbenam. Fenomena ini disebut konjungsi, yaitu ketika dua objek langit terlihat berada pada jarak sudut yang sangat dekat dari sudut pandang Bumi.
Venus, yang dikenal sebagai “Bintang Kejora”, akan terlihat paling mencolok karena cahayanya sangat terang. Sementara itu, Saturnus bisa diamati menggunakan teropong sekitar pukul 19.15 WIB.
Bagi yang memiliki teleskop kecil, cincin Saturnus dapat terlihat tipis karena posisinya hampir sejajar dengan Bumi pada periode ini. Pemandangan dua planet berdampingan ini menjadi salah satu momen romantis di langit Maret.
3. 18 Maret 2026: Bulan Baru dan Waktu Terbaik Berburu Galaksi
Tanggal 18 Maret menandai fase Bulan Baru. Pada malam ini, bulan tidak terlihat karena posisinya berada di antara Bumi dan Matahari.
Kondisi langit yang lebih gelap menjadikan momen ini ideal untuk mengamati objek langit dalam seperti galaksi dan gugus bintang. Periode Maret hingga pertengahan Mei dikenal sebagai musim yang baik untuk berburu galaksi, terutama pada awal malam.
Bagi pengamat di daerah minim cahaya, inilah waktu terbaik untuk menikmati keindahan langit tanpa gangguan cahaya bulan.
4. 19–20 Maret 2026: Bulan Sabit Bertemu Venus
Sehari setelah Bulan Baru, bulan sabit tipis akan kembali muncul di langit barat. Pada 19 Maret sekitar pukul 19.15 WIB, bulan sabit akan tampak berdekatan dengan Venus.
Venus berada di kiri atas bulan dan terlihat sangat terang. Keesokan harinya, 20 Maret, posisi Venus tampak menggantung di bawah bulan. Kombinasi ini menciptakan pemandangan yang indah saat senja.
Fenomena ini mudah diamati tanpa alat bantu, asalkan langit barat tidak tertutup awan.
5. 20 Maret 2026: Ekuinoks Maret Bertepatan dengan Lebaran
Pada 20 Maret 2026 sekitar pukul 16.01 WIB, terjadi peristiwa ekuinoks Maret. Ekuinoks terjadi ketika Matahari melintasi garis ekuator langit, bergerak dari belahan selatan ke utara.
Akibatnya, durasi siang dan malam di seluruh dunia hampir sama panjang. Di belahan bumi utara, momen ini menandai awal musim semi, sedangkan di belahan bumi selatan menjadi awal musim gugur.
Di Indonesia, ekuinoks menarik karena Matahari akan terbit hampir tepat di timur dan terbenam hampir tepat di barat. Tahun ini, momen tersebut berdekatan dengan perayaan Lebaran, menjadikannya peristiwa astronomi yang terasa lebih istimewa.
6. 22 Maret 2026: Bulan Dekati Gugus Pleiades
Pada 22 Maret, bulan sabit tipis akan melintas dekat Pleiades di langit barat. Gugus bintang ini dikenal luas karena tampilannya yang rapat dan mudah dikenali.
Baca Juga : Puluhan Rumah Warga Pakis Malang Tergenang Banjir
Pleiades sering tampak seperti sekumpulan titik cahaya kecil yang berkelompok. Fenomena ini dapat diamati sekitar 60–90 menit setelah Matahari terbenam.
Di Indonesia, kombinasi bulan sabit tipis dengan gugus bintang terang ini berpotensi menjadi salah satu pemandangan langit paling cantik bulan Maret.
7. 26–27 Maret 2026: Jupiter Bertemu Bulan
Menjelang akhir bulan, Jupiter akan tampak berdekatan dengan bulan cembung pada malam 26 hingga 27 Maret.
Keduanya terlihat menghiasi langit barat daya sejak selepas Matahari terbenam hingga menjelang dini hari. Karena Jupiter merupakan salah satu objek paling terang di langit malam, fenomena ini mudah disaksikan tanpa alat bantu.
Jika menggunakan teleskop, pengamat juga bisa melihat garis awan dan beberapa satelit alami Jupiter.
8. 29–30 Maret 2026: Okultasi Regulus oleh Bulan
Penutup Maret 2026 menghadirkan peristiwa menarik ketika bulan melintas sangat dekat dengan Regulus, bintang paling terang di rasi Leo.
Di sejumlah wilayah Afrika, Asia, dan Eropa, fenomena ini bahkan menjadi okultasi. Artinya, bulan benar-benar melintas di depan Regulus sehingga bintang tersebut tampak menghilang sesaat sebelum muncul kembali.
Sebagian wilayah Asia berpeluang masuk jalur pengamatan, sehingga fenomena ini menjadi salah satu peristiwa langit yang paling dinantikan di penghujung bulan.
Tips Mengamati Fenomena Langit di Indonesia
Agar pengalaman menyaksikan fenomena langit lebih maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
• Pilih lokasi dengan minim polusi cahaya
• Pastikan prakiraan cuaca cerah
• Gunakan teropong atau teleskop kecil untuk detail lebih jelas
• Datang lebih awal sebelum waktu puncak fenomena
Dengan persiapan yang tepat, Maret 2026 bisa menjadi bulan penuh kenangan bagi para pemburu langit di Indonesia.
