Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Petani Kelapa Ngeluh Harga Anjlok Rp 2 Ribu per Biji, Benarkah?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

21 - Aug - 2026, 19:49

Placeholder
Potret kelapa. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Keluhan petani kelapa soal anjloknya harga jual ramai dibicarakan. Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, harga kelapa di tingkat petani disebut turun hingga sekitar Rp 2.000 per biji.

Kondisi tersebut disoroti pendiri Web Ekspor, David Alfa Sunarna. Melalui akun Instagram pribadinya, David mengaku menerima banyak pesan dari masyarakat yang meminta dirinya mengecek harga kelapa di tingkat petani.

Baca Juga : 5 Tips Memilih Alat BBQ untuk Kegiatan Outdoor

"Banyak banget DM (pesan Instagram) datang ke gua buat periksa harga kelapa di petani. Dan ternyata memang benar lagi jatuh banget cuma di angka 2000 perak per butir," tulis David.

David kemudian mencoba membandingkan harga tersebut dengan harga kelapa yang dijual di pasar. Dia menemukan perbedaan harga yang cukup jauh antara tingkat petani dan konsumen.

Dalam video yang dibagikan, David menyebut harga kelapa di Inhil Riau anjlok hingga Rp 2.000 per butir.

"Teman-teman, harga kelapa di Inhil Riau anjlok sampai 2.000 rupiah per butir, yang mana itu paling per kilogramnya cuma 1.500," ujarnya.

Dia juga menyebut mendapat informasi mengenai harga kelapa di sejumlah wilayah Jawa yang berada di kisaran Rp 2.000-Rp 2.500 per kilogram.

"Nah, biar kita nggak penasaran sebenarnya berapa sih harga kelapa di pasar kalau kita beli, kalau emak-emak beli di pasar tuh harganya berapa?" katanya.

David kemudian mendatangi pedagang untuk menanyakan harga kelapa.

"Berapa harganya ini?" tanya David.

"15," jawab pedagang.

David lalu menunjukkan kelapa lainnya yang menurutnya dijual dengan harga lebih tinggi. "Ini jadi 15, ini jadi 20.000. Tuh guys, harganya (masih) mahal. Makasih ya bang," ujarnya.

Dia pun membeli satu butir kelapa dari pedagang tersebut. "Nih guys, gue udah beli kelapa satu butir. Harganya 20-25 ribu tergantung kalian nawar," kata David.

Meski menemukan selisih harga yang cukup besar, David mengatakan pedagang tidak bisa begitu saja disalahkan. Sebab, pedagang juga mendapatkan kelapa dari rantai distribusi sebelumnya.

"Kita nggak bisa salahin penjualnya juga ya. Karena dia kan juga beli dari pengepul, dari pengepul lagi, dari pengepul," tuturnya.

Menurut David, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan pada rantai perdagangan kelapa yang terlalu panjang.

"Gue mau kalian tuh melek. Harganya selisih 10 kali lipat daripada harga dari petani," katanya.

Dia mengaku tidak ingin menunjuk pihak tertentu sebagai penyebab persoalan tersebut. "Dan gue nggak mau nyalahin siapapun di sini. Masalah ini adalah kompleks. Kita harus selesaikan bersama-sama," ujarnya.

Keluhan mengenai harga kelapa di Inhil memang terjadi. Namun, angka harga dapat berbeda tergantung jenis kelapa, kualitas, lokasi transaksi, satuan yang digunakan serta jalur distribusinya.

Pada akhir Juli 2026, harga kelapa di Inhil dilaporkan turun hingga sekitar Rp 1.800 per kilogram. Harga tersebut jauh di bawah kondisi sebelumnya yang sempat mencapai sekitar Rp 7.000 per kilogram.

DPRD Inhil pada awal Agustus juga membahas persoalan tersebut. Harga kelapa di tingkat petani disebut berada di kisaran Rp 1.500-Rp 2.000 per butir. Sementara biaya produksi diperkirakan sekitar Rp 3.500 per butir.

Pemkab Inhil sebelumnya bahkan telah mengusulkan Harga Acuan Pembelian (HAP) kelapa sebesar Rp 5.000 per kilogram kepada pemerintah pusat.

Inhil Salah Satu Sentra Kelapa Terbesar

Dilansir dari laman pertanian.go.id, Indragiri Hilir merupakan salah satu sentra kelapa utama di Indonesia. Luas perkebunan kelapa di wilayah tersebut mencapai sekitar 425.740 hektare dengan produksi sekitar 6,95 juta butir per hari.

Besarnya ketergantungan masyarakat Inhil terhadap komoditas kelapa membuat perubahan harga sangat berdampak terhadap pendapatan petani.

Ketika harga turun drastis, petani harus menanggung tekanan dari biaya produksi, pemeliharaan kebun hingga ongkos panen dan distribusi.

Persoalan tersebut juga tidak hanya terjadi di Inhil. Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, petani pada Juni 2026 sempat mengeluhkan harga kelapa sekitar Rp 2.200 per kilogram. Harga itu turun jauh dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp 6.000 per kilogram.

Baca Juga : Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 75 Orang, Pengungsi Capai 92 Ribu Jiwa

Apa Penyebab Harga Kelapa Turun?

Pemerintah Provinsi Riau sebelumnya menyebut penurunan harga kelapa di Inhil dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah melemahnya permintaan global ketika produksi kelapa sedang meningkat.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriyadi mengatakan permintaan produk kelapa dan turunannya di pasar global sedang mengalami penurunan.

"Ada beberapa penyebab harga kelapa turun. Saat ini permintaan produk hasil kelapa dan turunannya sedang menurun di pasar global sehingga antrean bahan baku di Sambu juga sedang ramai. Penjualan ke Malaysia melalui kapal juga sedang sepi," kata Supriyadi pada Rabu (29/7/2026).

Selain kondisi pasar global, panjangnya rantai distribusi juga menjadi perhatian. Kelapa dari petani dapat melewati pengepul dan pedagang perantara sebelum akhirnya sampai ke industri pengolahan atau konsumen.

Kondisi inilah yang kemudian membuat David mendorong adanya efisiensi dalam rantai perdagangan. "Yang penting kita tuh melek dulu. Rantai kelapa kita tuh kepanjangan. Harus lebih diefisienkan," katanya.

David juga menilai harga kelapa dalam negeri tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar ekspor. "Terus harganya masih bergantung kepada nilai ekspor," ujarnya.

Dalam videonya, David juga menyinggung perubahan pasar ekspor kelapa dan persaingan dengan negara lain. Namun, klaim mengenai persentase tujuan ekspor serta perubahan pemasok harus dilihat berdasarkan data perdagangan resmi agar tidak langsung disimpulkan sebagai penyebab tunggal anjloknya harga di tingkat petani.

Menurut David, industri kelapa nasional juga perlu diperkuat agar tidak terlalu bergantung pada kondisi pasar dan segelintir pelaku usaha.

"Industrinya belum sustain karena dikuasain segelintir orang aja. Ada yang mainin harga ini," katanya.

David kemudian menawarkan sejumlah solusi. Salah satunya adalah membuat masyarakat mengetahui secara transparan pergerakan harga kelapa sejak dari petani hingga konsumen.

"Solusinya yang pertama, gue pengen membuat masyarakat ini melek. Seberapa besar harga dari petani ke penjual akhir," ujarnya.

Dia juga meminta pemerintah segera membuat harga acuan untuk komoditas kelapa. "Yang kedua, pemerintah harus buat segera harga acuan pemilihan komoditas Indonesia atau kelapa lah, nggak usah jauh-jauh," lanjutnya.

Usulan tersebut sejalan dengan langkah Pemkab Inhil yang telah mengusulkan HAP kelapa kepada pemerintah pusat.

David juga menyoroti peran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, koperasi tersebut semestinya dapat menjadi off-taker atau pembeli hasil panen petani.

"Yang ketiga, itulah tujuan Koperasi Desa Merah Putih yang seharusnya menjadi off-taker komoditas-komoditas petani," katanya.

"Petani kelapa harusnya panennya dibeli oleh Koperasi Desa Merah Putih," sambungnya.

David menjelaskan dirinya bukan menolak keberadaan program KDMP. Dia justru berharap koperasi tersebut memiliki peran nyata dalam membantu petani mendapatkan kepastian pasar.

"Jadi bukannya gue nggak setuju sama program KDMP, tapi harusnya tugas KDMP adalah membeli kelapa dari petani sebagai off-taker," tuturnya.

David berharap persoalan harga kelapa segera mendapat perhatian karena menyangkut langsung kehidupan petani.

"Itu aja saran dari gue, semoga bisa bermanfaat, tidak bermaksud menyerang siapapun ya teman-teman. Semoga masalah ini bisa terselesaikan segera," katanya.

"Dan gue berdoa terus buat Indonesia. Semoga menjadi negeri yang lebih baik. Amin," pungkas David.


Topik

Ekonomi harga kelapa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Minang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri