Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Bonus Demografi Terancam, MTsN 1 Kota Malang Perkuat Edukasi Genre Bersama Komisi IX DPR RI dan BKKBN

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

27 - Jul - 2026, 14:00

Placeholder
Kegiatan Generasi Berencana (Genre) yang mempertemukan MTs Kelompok Kerja Madrasah (KKM) 1 Kota Malang dengan Komisi IX DPR RI serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur di MTsN 1 Kota Malang (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Isu pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak lagi berhenti pada upaya menekan angka stunting. Di tengah bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia, ancaman baru berupa meningkatnya kasus HIV pada usia produktif, pernikahan dini, hingga rendahnya literasi kesehatan reproduksi menjadi tantangan yang dinilai sama seriusnya.

Persoalan tersebut mengemuka dalam kegiatan Generasi Berencana (Genre) yang mempertemukan MTs Kelompok Kerja Madrasah (KKM) 1 Kota Malang dengan Komisi IX DPR RI serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur di MTsN 1 Kota Malang, Senin, (27/7/2026).

Baca Juga : Iwan Budianto Buka Suara Soal Penampilan Arema FC di Piala Presiden: Jangan Langsung Di-judge

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, S.H., M.M., menegaskan bahwa pembangunan keluarga menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, tugas BKKBN kini tidak hanya berkutat pada program keluarga berencana, tetapi mengawal seluruh siklus kehidupan masyarakat, mulai calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, remaja hingga lanjut usia.

"Stunting sebenarnya masih bisa dicegah selama anak berada di bawah usia dua tahun. Namun pembangunan SDM tidak berhenti pada stunting saja. Semua tahapan kehidupan harus dipersiapkan agar menghasilkan generasi yang sehat, produktif, dan berkualitas," ujarnya, 

1

Ia menjelaskan, salah satu inovasi yang kini dikembangkan pemerintah adalah Super Apps Konsultasi Keluarga, layanan digital yang memungkinkan masyarakat berkonsultasi mengenai kehamilan, kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, kesehatan lansia hingga persoalan ketahanan keluarga secara daring.

Menurut Shodiqin, layanan tersebut dihadirkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan dan kependudukan secara cepat.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Indonesia sedang berada pada fase bonus demografi, di mana lebih dari 70 persen penduduk berada pada usia produktif.

"Kondisi ini menjadi peluang besar apabila usia produktif memiliki keterampilan, pendidikan dan kesehatan yang baik. Jangan sampai bonus demografi justru berubah menjadi beban karena kualitas SDM yang tidak siap," katanya.

Ia juga menyoroti tren peningkatan kasus HIV yang kini didominasi kelompok usia produktif.

Berdasarkan data yang dipaparkan, sekitar 74 persen penderita HIV di Indonesia berasal dari kelompok usia 25 hingga 49 tahun. Jawa Timur termasuk salah satu dari 11 provinsi dengan angka kasus HIV yang masih tinggi.

Shodiqin bahkan menyinggung temuan kasus di Kabupaten Sidoarjo yang menunjukkan sebanyak 522 anak dan pelajar terpapar HIV. Rinciannya terdiri atas 465 pelajar SMA dan mahasiswa, 44 siswa SD dan SMP, serta 13 anak usia PAUD dan TK yang sebagian besar tertular dari ibunya.

"Jangan sampai kita berhasil mencegah stunting, tetapi generasi yang sudah lahir sehat justru menghadapi ancaman penyakit menular seperti HIV. Karena itu edukasi sejak usia remaja menjadi sangat penting," tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, BKKBN terus memperkuat program Genre (Generasi Berencana) melalui pendekatan Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang menekankan tiga hal utama, yakni menghindari pernikahan usia dini, tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, serta menjauhi penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif.

Sementara itu, Penyuluh KB Kecamatan Lowokwaru, Danang Mukti, S.H., menekankan bahwa pencegahan stunting sesungguhnya dimulai jauh sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.

Menurutnya, remaja putri harus menjaga status gizi sejak dini agar tidak mengalami anemia maupun Kekurangan Energi Kronis (KEK), karena kondisi tersebut meningkatkan risiko melahirkan anak stunting di masa mendatang.

"Stunting dimulai pencegahannya sejak remaja, bahkan sebelum menikah. Karena itu kesehatan remaja putri harus benar-benar dijaga, mulai dari kecukupan gizi hingga terhindar dari anemia," jelasnya.

Danang juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan sehat di tengah maraknya konsumsi makanan cepat saji yang rendah nilai gizi. Selain kesehatan fisik, ia menilai kesehatan mental, lingkungan keluarga, serta kehadiran figur ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter remaja.

Baca Juga : Refleksi 30 Tahun Kudatuli, Ketua PDIP Magetan Diana Sasa Ajak Jaga Demokrasi

Menurutnya, program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATIN) menjadi salah satu upaya pemerintah mengurangi fenomena fatherless yang dinilai berdampak terhadap perkembangan psikologis anak.

Selain itu, BKKBN juga terus memperluas pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) serta Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) agar sekolah memiliki ruang edukasi yang berkelanjutan mengenai kesehatan reproduksi, kependudukan, dan pembangunan karakter.

Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Gamal Albinsaid, mengatakan pembangunan SDM harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan kecerdasan, kesehatan, dan kreativitas generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak terhadap penurunan kecerdasan hingga 8 sampai 11 poin IQ, menurunkan produktivitas ketika dewasa sekitar 20 persen, bahkan memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

"Melalui kolaborasi dengan BKKBN dan MTsN 1 Kota Malang, kami ingin meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya gizi yang cukup, ASI eksklusif, serta pengaturan jarak kehamilan sebagai bagian dari pencegahan stunting," ujarnya.

Menurut Gamal, pemerintah juga tidak mengabaikan ancaman penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, stroke maupun obesitas yang kini terus meningkat.

Ia menyebut persoalan tersebut ikut membebani sistem pembiayaan kesehatan nasional karena sebagian besar dipicu pola hidup yang tidak sehat.

"Masalah stunting maupun penyakit tidak menular sama-sama berdampak terhadap produktivitas bangsa. Karena itu edukasi mengenai pola makan sehat dan gaya hidup sehat harus dilakukan sejak usia sekolah," katanya.

Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Hj. Erni Qomaria Rida, M.Pd., menyambut baik sinergi lintas sektor tersebut. Menurutnya, materi yang diterima peserta tidak hanya memperkaya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan stunting, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan mental, kesehatan jasmani maupun pembentukan karakter remaja.

"Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi ini. Wawasan tentang Generasi Berencana menjadi semakin luas karena membahas kesehatan secara utuh, mulai kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, kesehatan mental hingga pembentukan karakter," ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari inovasi madrasah bertajuk BAKTI (Bersama Kita Tingkatkan Kepedulian untuk Negeri).

Melalui forum itu, MTsN 1 Kota Malang mengundang 18 madrasah yang tergabung dalam KKM MTsN 1 Kota Malang. Peserta terdiri atas kepala madrasah, wakil kepala bidang kesiswaan, pembina OSIM, ketua dan pengurus OSIM, serta perwakilan wali murid sebagai bagian dari upaya memperluas literasi kesehatan keluarga dan remaja di lingkungan madrasah.


Topik

Pendidikan MTsN 1 Kota Malang bonus demografi prestasi siswa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Minang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan