JATIMTIMES - Pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah di lingkungan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Rabu, (27/5/2026), tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga mencerminkan konsistensi kampus dalam membangun ruang sosial yang menyatu dengan masyarakat sekitar.
Kegiatan yang dipusatkan di halaman Rektorat Unikama tersebut memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan tinggi berperan tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai simpul interaksi sosial dan spiritual.

Ratusan jemaah yang hadir sejak pagi menunjukkan bahwa Idul Adha di lingkungan kampus telah berkembang menjadi ruang perjumpaan lintas elemen. Tidak hanya sivitas akademika seperti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, tetapi juga warga sekitar yang ikut bergabung dalam satu saf yang sama. Pola ini memperlihatkan adanya integrasi sosial yang jarang ditemui dalam aktivitas kampus sehari-hari, di mana batas-batas institusional melebur dalam praktik ibadah kolektif.

Setelah pelaksanaan salat dan khutbah, perhatian beralih pada penyerahan hewan kurban yang tahun ini berjumlah 3 ekor sapi dan 6 ekor kambing. Penyerahan simbolis oleh rektor Unikama kepada panitia bukan sekadar prosedur administratif, melainkan penanda adanya sistem pengelolaan filantropi kampus yang terstruktur. Kegiatan ini menunjukkan bahwa praktik qurban di lingkungan perguruan tinggi tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi juga menyentuh tata kelola distribusi sosial yang lebih luas.
Wakil Ketua PPLP-PT PGRI Malang Dr Nawaji menegaskan bahwa keterlibatan seluruh unsur kampus dalam kegiatan ini menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi berbagi. Ia menilai bahwa kekuatan utama dari pelaksanaan qurban di lingkungan Unikama terletak pada soliditas internal yang mampu menggerakkan partisipasi kolektif.

“Kami mengucapkan terima kasih atas sumbangsih dan dukungan dari seluruh keluarga besar Unikama. Berkat kerja sama dan soliditas yang luar biasa, pelaksanaan sholat Id serta kurban hari ini dapat berlangsung dengan lancar,” ujarnya.
Di luar aspek seremonial, kegiatan qurban di kampus ini juga dapat dibaca sebagai bentuk pendidikan nilai yang tidak tertulis dalam kurikulum formal. Mahasiswa dan civitas akademika tidak hanya menyaksikan proses ibadah, tetapi juga terlibat dalam mekanisme distribusi, pengelolaan, hingga interaksi langsung dengan penerima manfaat. Hal ini memperkuat dimensi experiential learning yang berbasis pada praktik sosial-keagamaan.

Lebih jauh, momentum Idul Adha juga menjadi ruang refleksi atas relasi antara institusi pendidikan dan masyarakat di sekitarnya. Distribusi daging kurban kepada warga sekitar kampus dan kelompok masyarakat yang membutuhkan memperlihatkan adanya peran redistributif yang dijalankan kampus sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, kurban tidak hanya dipahami sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai instrumen penguatan solidaritas sosial.

Setelah seluruh rangkaian penyerahan selesai, panitia segera melanjutkan ke tahap penyembelihan dan pendistribusian daging qurban. Proses ini menjadi bagian penting dari rantai kegiatan yang memastikan bahwa nilai dari ibadah tersebut tidak berhenti pada simbol, melainkan benar-benar hadir dalam bentuk manfaat nyata di tengah masyarakat.
