JATIMTIMES – Ada pemandangan menarik di Galeri Raos, Kota Batu. Belasan karya lukis berjajar rapi, namun bukan sekadar pemuas mata. Sang seniman, Slamet Henkus, tengah mengajak pengunjung menyelami kegelisahan manusia modern melalui pameran tunggal bertajuk "Paradoks Mitologi".
Pameran yang berlangsung sejak 4 April ini memamerkan 9 karya dalam 16 bidang kanvas yang lahir dari riset mendalam Slamet Henkus selama kurang lebih lima bulan. Bukan tanpa alasan, tema ini muncul dari pengamatan Slamet terhadap kondisi masyarakat saat ini yang ia sebut sedang terbelah atau dilematis.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Legi 9 April 2026: Hari Baik untuk Berobat
“Di satu sisi manusia ingin mengikuti teknologi yang serba logis dan rasional. Tapi sebagai orang Timur, kita tidak bisa menghilangkan kebutuhan batiniah atau spiritualitas,” ungkap Slamet Henkus saat ditemui di lokasi pameran.

Slamet menceritakan, salah satu pemicu lahirnya karya-karya ini adalah fenomena paradoks yang ia temui sehari-hari. Ia mencontohkan bagaimana orang-orang kota yang tampil modis dan kaya, namun justru mencari ketenangan dengan makan lesehan bertikar di pinggir sawah. Termasuk, Slamet menyoroti fenomena ritual adat yang kini mulai masuk ke ruang-ruang modern.
“Saya melihat sesuatu yang paradoks saat ritual dengan atribut Jawa lengkap dilakukan di dalam gedung-gedung metropolis yang serba modern. Ada benturan antara fungsi spiritual dan logika rasional di sana,” tambahnya.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah lukisan berjudul "Valentine Day". Dalam karya ini, Slamet memotret bagaimana pluralisme bekerja. Jika di kota besar Valentine dirayakan dengan gaya urban, di desa, simbol kasih sayang bisa bersanding dengan dupa sebagai bentuk kesepakatan budaya lokal yang unik.
Tak hanya soal konten, penataan karya di Galeri Raos pun dibuat tidak lazim. Slamet sengaja menempatkan lukisan berukuran lebarnya di sudut-sudut galeri. Strategi ini ia gunakan untuk menciptakan pengalaman visual yang berbeda, mengajak pengunjung untuk benar-benar berhenti dan melakukan kontemplasi.

“Saya ingin membuka ruang perenungan. Agar kita tidak hanya menjalani hidup secara mekanik, tapi sadar akan identitas kita. Bagaimanapun, manusia dipengaruhi oleh letak geografis, lingkungan, dan nilai tradisi yang tidak bisa dihapus oleh teknologi secanggih apa pun,” tegas pria yang juga gemar membaca karya sastra dan filsafat ini.
Baca Juga : Banjir Masih Ada Tapi Cepat Surut, Strategi DPUPRPKP Kota Malang Mulai Tunjukkan Hasil
Pesan emosional kuat mengajak pengunjung menyelami kedalaman makna di balik goresan tangan Slamet Henkus. Bagi Anda yang ingin merasakan atmosfer perenungan budaya ini, pameran "Paradoks Mitologi" masih terbuka untuk umum di Galeri Raos, Kota Batu sampai 19 April 2026.
