Akademisi UM: Wisata Mikutopia Kota Batu Menyalahi Blue Print Pengembangan Wilayah

Reporter

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

05 - Apr - 2026, 02:40

Tempat wisata baru Mikutopia dibangun di wilayah Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Keberadaan destinasi wisata baru Mikutopia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji terus menjadi sorotan publik. Selain kritik dari aktivis lingkungan soal belum lengkap dokumen Amdal sebelum perizinan, pakar pariwisata juga menyoroti kesesuaian wisata buatan tersebut dengan blueprint pengembangan wilayah Kota Batu.

Akademisi Universitas Negeri Malang (UM) Elya Kurniawati, mengungkapkan bahwa secara ideal pengembangan pariwisata di suatu daerah harus memperhitungkan tata ruang yang telah ditetapkan. Menurutnya, wilayah utara Kota Batu utamanya bagian Utara sejak lama diprioritaskan sebagai kawasan agro-industri dan resapan air, bukan untuk pembangunan wisata buatan (theme park) skala besar.

Baca Juga : Penggembala Sapi Dilaporkan Hilang di Hutan, Tim Gabungan Lakukan Pencarian

"Sebaiknya kita mengharap ada pengkajian ulang. Jangan sampai kita hanya berfokus pada pengembangan, tetapi lupa dampaknya ke depan. Apalagi kawasan utara itu memiliki kemiringan tanah (slope) yang tajam dan sangat sensitif terhadap bencana," ujar Elya.

Dia menjelaskan, secara historis wilayah utara Batu memang difokuskan untuk penguatan sektor pertanian seperti wisata petik apel. Sementara pembangunan hotel dan taman bermain berkonsep mesin diarahkan ke wilayah selatan yang kondisi tanahnya lebih memungkinkan.

Terkait keberadaan objek wisata legendaris seperti Selecta di wilayah utara, Elya menilai hal tersebut tidak bisa disamakan dengan munculnya wisata baru. Sebab, Selecta sudah ada jauh sebelum perumusan tata ruang modern dan memiliki nilai sejarah yang melekat dengan karakter agrowisata setempat.

"Kalau kita ngomong masalah lingkungan, memang perlu ada pengkajian ulang. Apalagi kalau perizinan keluar, aspek lingkungan harus menjadi syarat mutlak sejak awal," tegasnya.

Selain isu ekologi, Elya juga menyoroti masalah otentisitas Mikutopia yang viral di media sosial karena dianggap menyerupai salah satu destinasi wisata di Jepang. Dari kacamata industri, ia menyebut mengadopsi tren luar negeri memang sah secara ekonomi untuk menarik massa (money oriented). Namun, hal itu dinilai kontraproduktif bagi keberlanjutan (sustainability) pariwisata lokal.

Baca Juga : Jadwal Musim Kemarau 2026 di Jawa Timur, Berikut Sebaran Wilayahnya 

"Tren pariwisata sekarang itu titik tekannya pada originalitas. Kalau saya orang Jepang datang ke Batu, saya ingin lihat keaslian Batu, bukan Jepang-jepangan yang di negara saya jauh lebih otentik. Identitas kawasan itulah daya tarik yang luar biasa, seperti di Bali atau Desa Wisata Osing," urainya.

Ia mengkhawatirkan, jika wisata buatan yang berwarna-warni (colorful) terus menjamur tanpa identitas kuat, maka daya tarik agrowisata asli Batu seperti petik apel dan stroberi bisa perlahan tergerus. Meskipun segmen pasarnya berbeda, namun identitas daerah harus tetap menjadi ruh utama pembangunan.

"Ini menjadi isu penting bagi para pengembang pariwisata masa depan. Jangan sampai pengembangan yang dilakukan malah merusak lingkungan dan menghilangkan identitas budaya demi mengejar tren sesaat," pungkasnya.