Banjir di Suhat Kembali Terjadi, Wagub Emil Klaim Bukan Drainase Rp32 Miliar yang Bermasalah
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Nurlayla Ratri
05 - Mar - 2026, 02:41
JATIMTIMES - Banjir yang kembali merendam kawasan Jalan Soekarno-Hatta atau Suhat, Kota Malang, pada Senin 2 Maret 2026, memantik sorotan publik. Pasalnya, proyek drainase baru senilai Rp32 miliar di jalur utama tersebut belum lama ini rampung dan digadang menjadi solusi permanen persoalan genangan.
Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa banjir bukan disebabkan kegagalan sistem drainase utama yang telah dibangun. Ia menyebut, persoalan muncul akibat saluran lokal yang tersumbat sampah sehingga aliran air tidak dapat masuk ke saluran utama.
Baca Juga : Sukses Serap 23.468 Tenaga Kerja, Investasi Kota Kediri Tahun 2025 Tumbuh 7,57 Persen
“Saluran kita ini sebenarnya menerima air dari saluran-saluran lokal. Nah, saluran lokal ini harusnya airnya bisa masuk ke saluran utama. Tapi di salah satu titik, di samping Warung Cak Uut, sampah menutup bagian penyaring atau sediment trap, sehingga airnya tidak bisa masuk,” ujar Emil, Kamis (5/3/2026).
Menurut Emil, saat hujan deras dengan intensitas cukup ekstrem, saluran utama di Jalan Soekarno-Hatta menerima limpasan dari sejumlah saluran lingkungan di sekitarnya. Namun, pada salah satu titik, sediment trap tertutup sampah sehingga air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya.
Akibatnya, air yang seharusnya masuk ke gorong-gorong justru meluap dan mengalir ke badan jalan. Kondisi tersebut memicu genangan kembali terjadi di kawasan Suhat meski sistem drainase baru telah selesai dikerjakan.
“Airnya bukan masuk ke saluran, tapi justru loncat ke jalan karena kehalangan sampah. Jadi bukan karena kapasitas saluran penuh, tapi karena tertutup sampah,” ungkapnya.
Emil mengaku telah berkoordinasi dengan Wali Kota Malang dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air untuk segera melakukan pembersihan di titik saluran yang tersumbat. Langkah cepat dilakukan dengan membersihkan sediment trap yang dipenuhi sampah agar aliran kembali normal.
Ia menekankan pentingnya pemeliharaan rutin sebagai solusi jangka panjang. Menurutnya, penggunaan sediment trap memang membutuhkan perawatan berkala agar tidak berubah fungsi menjadi titik hambatan aliran.
“Kalau sudah pakai sediment trap memang harus rajin dibersihkan. Itu bagian dari perawatan yang harus dilakukan secara rutin,” katanya.
Ke depan, Emil menilai perlu ada kesepakatan yang jelas antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Malang terkait pembagian tugas pemeliharaan, khususnya pada saluran lokal yang terhubung dengan drainase utama.
Baca Juga : Ratusan Gerai KDMP Dibangun di Bondowoso, Transparansi Proyek Dipertanyakan
“Saya lagi memastikan, karena sediment trap-nya dipasang di saluran kita, tapi salurannya saluran lokal. Jadi nanti dengan Pak Wali Kota perlu disepakati bagaimana pembagian tugas untuk membersihkan ini,” tuturnya.
Meski demikian, Emil menegaskan pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan masyarakat. Jika ditemukan kekurangan pada proyek drainase tersebut, pemerintah siap melakukan penyempurnaan.
“Saya tidak menutup diri. Kalau memang ada hal yang perlu disempurnakan dari pekerjaan yang sudah ada, tentu akan kita kerjakan. Waktu saya meninjau ke lapangan juga ada beberapa masalah yang langsung kita benahi satu per satu,” ucapnya.
Seperti diketahui, banjir kembali terjadi di Jalan Soekarno-Hatta pada Senin sore sekitar pukul 17.30 WIB. Genangan air bahkan sempat mencapai ketinggian sekitar 80 sentimeter saat hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan tersebut.
Selain Suhat, genangan juga terjadi di Jalan Ikan Tombro dan Jalan Sudimoro, wilayah Kelurahan Mojolangu. Air berangsur surut sekitar pukul 19.30 WIB, meski arus lalu lintas sempat tersendat akibat genangan dan cuaca ekstrem.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa infrastruktur besar tetap membutuhkan sinergi dan perawatan rutin, agar fungsi pengendalian banjir benar-benar optimal di tengah curah hujan ekstrem yang masih kerap terjadi di Kota Malang.
